pojokmedia.com/ — Perayaan Iduladha 1446 Hijriah di Kota Samarinda ditandai dengan kumandang takbir sejak subuh yang menggema dari berbagai penjuru kota. Salah satu titik pelaksanaan Shalat Iduladha terbesar berlangsung di halaman Stadion GOR Kadrie Oening Sempaja, Samarinda Utara. Ribuan warga dari berbagai kawasan memadati lokasi tersebut untuk menunaikan ibadah shalat secara berjemaah.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Samarinda Utara, yang rutin mengadakan shalat Iduladha terbuka di kawasan tersebut. Shalat dimulai sekitar pukul 06.30 WITA, dipimpin oleh Ustaz Fauzi Fauzan Adhima, seorang tokoh Muhammadiyah Kalimantan Timur yang juga merupakan anggota Lembaga Pengembangan Cabang dan Ranting (LPCR) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Kaltim.

Khutbah Iduladha disampaikan oleh Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Berau, KH. Syarifuddin Israil. Dalam khutbahnya, ia mengangkat tema “Resep Nabi Ibrahim: Lulus dari Ujian Allah”, yang mengulas keteladanan Nabi Ibrahim AS dalam menghadapi perintah ilahi yang berat, yakni menyembelih putranya sendiri, Nabi Ismail AS.

KH. Syarifuddin menjelaskan bahwa perintah tersebut tidak serta-merta dilaksanakan tanpa pertimbangan. Nabi Ibrahim disebutkan menimbang mimpi yang dialaminya secara berulang, hingga akhirnya mengajak Nabi Ismail untuk berdiskusi. Proses dialog dan perenungan ini, menurut KH. Syarifuddin, menunjukkan bahwa ketaatan kepada Tuhan tidak menafikan akal dan kebijaksanaan.

Ia juga merujuk pada literatur Islam klasik seperti Tafsir al-Munir karya Syekh Wahbah az-Zuhaili dan Da’watur Rusul karya Ahmad Ghalwas, yang menjelaskan bagaimana peristiwa penyembelihan tersebut akhirnya digantikan oleh Allah dengan seekor domba putih besar, sebagai balasan atas keikhlasan Nabi Ibrahim dan kesabaran Nabi Ismail.

“Ini menjadi dasar perayaan Iduladha yang kita kenal sebagai yaumun nahr atau hari penyembelihan. Di dalamnya terkandung pelajaran penting tentang pengorbanan, ketaatan, serta integritas moral,” ujarnya di hadapan ribuan jamaah.

Lebih jauh, KH. Syarifuddin mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan kondisi umat Islam saat ini. Ia mengajak jamaah untuk menjadikan Iduladha bukan hanya sebagai ritual ibadah, tetapi juga sebagai momentum memperkuat iman, menumbuhkan kepedulian sosial, dan membangun masyarakat yang bertanggung jawab.

Ia menyampaikan bahwa umat Islam sepatutnya meneladani sikap Nabi Ibrahim dalam menjalani kehidupan sehari-hari, yaitu dengan terus belajar, bekerja secara sungguh-sungguh, berpikir kritis, serta tetap berserah diri kepada Allah SWT. Kombinasi nilai-nilai tersebut diyakini mampu membentuk pribadi muslim yang berkontribusi dalam membangun bangsa yang bermartabat.

Pelaksanaan ibadah di GOR Kadrie Oening berjalan dengan lancar dan tertib. Jamaah mulai berdatangan sejak pukul enam pagi. Terlihat antusiasme tinggi dari warga yang datang bersama keluarga, termasuk anak-anak yang mengenakan pakaian terbaik mereka. Pengaturan area shalat yang luas dan terbuka memudahkan mobilisasi jemaah dan menciptakan suasana yang khusyuk.

Di luar fungsi ibadah, momen seperti ini juga menjadi ruang silaturahmi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Sebagian jamaah tampak saling menyapa usai shalat, berbincang, dan mengabadikan kebersamaan mereka.

Iduladha tahun ini juga menjadi penanda penting dalam kalender keagamaan, terutama karena pelaksanaannya berdekatan dengan masa libur sekolah, sehingga memberikan ruang bagi keluarga untuk turut serta secara penuh dalam rangkaian ibadah, termasuk penyembelihan hewan kurban yang dijadwalkan berlangsung hingga dua hari ke depan.

Sejumlah panitia kurban dari berbagai masjid di Samarinda juga telah bersiap menjalankan proses distribusi daging kurban dengan tetap memperhatikan aspek kebersihan dan keteraturan. Di beberapa lokasi, kampanye pengurangan penggunaan plastik sekali pakai mulai digaungkan untuk mendorong perayaan kurban yang lebih ramah lingkungan.

Dengan partisipasi luas dan semangat kebersamaan yang terbangun, peringatan Iduladha 1446 H di Samarinda diharapkan menjadi ruang refleksi spiritual yang mendorong perbaikan diri, memperkuat hubungan antarwarga, serta menumbuhkan komitmen sosial dalam membantu sesama.